Minggu, 21 Februari 2010

Foucault: Analisis Keterbatasan (11)

Manusia adalah keterbatasan bagi manusia itu sendiri, hal ini merupakan kenyataan bahwa, sebagaimana dijelaskan oleh ilmu-ilmu empiris modern. Manusia dibatasi oleh sistem operasi pada dirinya, yaitu berbagai kekuatan historis (organik, ekonomi, linguistik). Keterbatasan ini merupakan masalah filosofis, karena sejarah yang sama ini menjadi empiris terbatas, dan harus entah bagaimana  hal ini dapat menjadi sumber representasi mengenai dari mana kita tahu dunia empiris, termasuk diri kita sendiri sebagai makhluk empiris. Aku (kesadaran saya), sebagaimana Kant katakan, harus menjadi keduanya, yaitu  objek empiris representasi dan representasi sumber transendental. Bagaimana mungkin? Pandangan Foucault  pada akhirnya, tidak - dan suatu kemustahilan (menyadarinya historis), dengan demikian hal ini berarti adalah keruntuhan episteme modern. Apa yang  Foucault sebut "analitik dari keterbatasan", adalah sketsa  mengenai kesimpulan dari kasus-kasus historis. Upaya utama untuk mengkajinya adalah dengan cara bersama-sama membentuk inti filsafat modern supaya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertanyaan dan strategi dasar untuk menjawab hal tersebut, kita tentu saja, kembali pada Kant, yang mengajukan pemikiran-pemikiran penting sebagai berikut adalah, faktor-faktor penting  yang membuat kita terbatas (ruang, waktu, kausalitas, dan sebagainya) yang merupakan kondisi/syarat  yang dibutuhkan bagi kemungkinan menuju pengetahuan.  Oleh karena keterbatasan manusia, secara terus menerus ditemukan berasamaan dengan pemuan tersebut (hal ini merupakan hal yang positif dan mendasar, sebagaimana dikatakan Foucault). Kajian-kajian filsafat modern (Kant dan pasca-Kantian) - analitik dari keterbatasan - adalah untuk menunjukkan bagaimana hal ini menjadi mungkin.

Beberapa filsafat modern berusaha untuk menyelesaikan masalah manusia tersebut,  yang ternyata pada dasarnya, hal ini mengurangi transendental menjadi lebih ke empiris. Sebagai contoh, usaha kaum positivisme untuk menjelaskan pengetahuan dengan pendekatan ilmu alam (fisika, biologi), sementara kaum Marxisme menggunakan sejarah ilmu-ilmu sosial. (Perbedaannya adalah bahwa pengetahuan beranjak atau didasari oleh hal-hal yang ada di masa lalu - misalnya, sebuah sejarah evolusi - sedangkan alasan kedua sebuah gerakan revolusioner masa depan yang akan melampaui batas-batas ideologi.) Sementara pendekatan yang lain mengabaikan hal-hal bahwa manusia harus dianggap sebagai sesuatu yang dapat direduksi, baik secara empiris dan transendental.

Fenomenologi Husserl  nampaknya telah melaksanakan proyek sintesis Kant mengenai manusia sebagai objek dan manusia sebagai subyek secara dengan pendekatan  Cartesian radikal yaitu, dengan mendasarkan bahwa pengetahuan kita mengenai kebenaran empiris dalam realitas subjek transendental.  Bagaimanapun juga, masalahnya adalah bahwa gagasan modern mengenai manusia termasuk Descartes ide dari cogito sebagai "souvereign transparency"  dari kesadaran murni. Pikiran tidak lagi murni representasi dan karena itu tidak dapat dipisahkan dari "bukan pemikiran" (yaitu, pemberian dari  kebenaran empiris dan historis tentang siapa kita). “Aku” tidak dapat meninggalkan bahwa "aku berpikir" untuk "Aku" karena isi dari realitas Aku (yang saya) selalu lebih dari isi dari pemikiran diri (saya, misalnya, hidup, bekerja, dan berbicara - dan semua ini membawa saya melampaui pemikiran belaka).  Atau, meletakkan titik pada alur yang sebaliknya, jika kita menggunakan "saya" untuk menunjukkan kenyataan saya hanya sebagai dalam keadaan sadar, maka saya "bukan" banyak dari apa yang saya (sebagai seorang diri di dunia) pagi. Akibatnya, sejauh bahwa Husserl telah didasarkan segala sesuatu dalam subjek transendental, ini bukan subjek (cogito) dari Descartes cogito tapi ide dari filsafat modern, yang meliputi (empiris) bukan pemikiran  yang merupakan bagian dari realitas manusia. Fenomenologi, seperti semua pemikiran filsafat modern, harus menerima yang bukan pemikiran sebagai yang tidak dapat sesuatu yang “lain” dari manusia yang tak dapat dieliminir. Bukan pula fenomenologis eksistensial (seperti Sartre dan Merleau-Ponty) mampu memecahkan masalah. Tidak seperti Husserl, mereka menghindari ego transendental yang di “tepat” kan dan berpusat pada realitas konkret manusia-dalam-dunia. Tapi ini, klaim Foucault, hanyalah sebuah cara yang lebih halus untuk mengurangi kadar  dari transendental ke empiris.

Akhirnya, beberapa filsuf (Hegel dan Marx dalam satu hal, Nietzsche dan Heidegger yang lain) telah mencoba untuk menyelesaikan masalah status ganda manusia dengan memperlakukan dia sebagai realitas sejarah. Tetapi langkah ini menjumpai kesulitan , yaitu manusia harus produk” sempurna ” dari proses dan evolusi sejarah.  Jika kita memperlakukan manusia sebagai produk, kita menemukan diri kita mengurangi realitas dengan sesuatu yang non-manusia (ini adalah apa yang Foucault sebut sebagai "kemunduran" dari asal manusia). Tetapi jika kita bersikeras "kembali" kepada manusia sebagai miliknya asal tepat, maka kita tidak lagi dapat memahami tempatnya di dunia empiris. Paradoks ini dapat menjelaskan obsesi tak berujung  filsafat  modern mengenai sesuatu yang asli (the origins), namun tak pernah ditemukan jalan keluar dari kontradiksi antara manusia sebagai pencipta dan manusia sebagai berasal. Meskipun demikian, Foucault berpendapat bahwa mengejar filsafat modern dengan  pertanyaan tentang “the origins” telah memberikan kita suatu rasa mendalam makna ontologis yang sangat penting dari waktu.Hal ini sebagaimana dalam pemikiran Nietzsche dan Heidegger, yang menolak Hegel dan pandangan Marx mengenai “kembali ke asal” sebagai pemenuhan penebusan ini, dan bukannya melihatnya sebagai sebuah ketiadaan konfrontasi dengan keberadaan kita.
 

Sumber:
http://plato.stanford.edu/entries/foucault

Tidak ada komentar: