Kamis, 05 Mei 2016

FILOSOFI RISET KEPENDIDIKAN (26): Konsep-Konsep Kunci dan Mengatasi Konflik dalam Penelitian Kependidikan

 Pengetahuan
Suatu kritik penelitian kependidikan menyatakan bahwa  tidak menciptakan tubuh pengetahuan yang dapat diandalkan oleh pembuat kebijakan dan para profesional. Pertama, berbagai penelitian memiliki skala kecil dan tercerai-berai serta tidak ada perkembangan pengetahuan tersebut secara kumulatif. Kedua, wacana pendidikan terlihat menuai banyak kritik dari penelitian lain sehingga tidak terdapat kesimpulan-kesimpulan yang telah terverifikasi-  tanpa ada pengetahuan. Berbagai Kesimpulan penelitian tampak lebih seperti keyakinan sementara daripada pengetahuan mapan.
Salah satu analisis filosofis mengetahui bahwa terdapat sesuatu yang terjadi seperti misal. 'X mengetahui P' (di mana P merupakan singkatan dari pernyataan apapun) jika, dan hanya jika, (i) X mempercayai P, (ii) X dinyatakan dianggap benar diyakini sebagai P, dan (iii),  maka P benar. (Lihat variasi dari analisis  Ayer, 1956; Scheffler, 1965; Woozley, 1949.) Sebagai contoh, klaim guru untuk mengetahui bahwa seorang murid akan melakukan hal yang baik dalam ujian, disangkal jika (i) guru menunjukkan kurangnya kepercayaan dengan memberikan pelajaran perbaikan dasar, atau (ii) dengan alasan percaya bahwa itu adalah keliru - ia membingungkan pekerjaan siswa dengan orang lain, atau (iii) siswa akhirnya gagal ujian. Guru memiliki keyakinan sementara tetapi keliru; tetapi ia kurang memiliki pengetahuan.
Klaim bahwa saya mengetahui sesuatu akan menjadi kasus yang berakibat saya dapat saja sedang keliru, tetapi dengan memperhatikan bukti atau argumen yang relevan, saya memiliki alasan yang baik untuk begitu percaya. Selanjutnya, ternyata saya tidak salah. Proposisi ‘P' itu benar. Dengan demikian, pada analisis ini, 'pengetahuan' akan secara logis terkait dengan 'kebenaran' dan, memang, untuk 'realitas' yang membuat klaim saya adalah benar dan untuk menegakkan dengan mode penyelidikan dan verifikasi, secara objektif, dan pembenaran keyakinan itu. Pengetahuan bukanlah gambaran dari keadaan psikologis pikiran -sebuah keyakinan yang kuat. Hal ini tergantung pada kerangka yang disepakati publik sebagai pembenaran, sanggahan dan verifikasi.
Sedikit perbedaan mengenai, pemikiran yang terhubung, kesadaran pengetahuan. Kita katakan sebagai “tubuh pengetahuan. Peletakan penekanan Hal ini menekankan pada wilayah pikiran seseorang. Seseorang tersebut mungkin mengacu pada akumulasi pengetahuan seperti di perpustakaan atau basis data walaupun tidak seorangpun memilikinya. Pengetahuan tanpa berpengetahuan a. Sesesorang dapat membayangkan pemusnahan total umat manusia, namun bukan berarti pengetahuan yang disimpan jauh di lemari arsip dan buku ikut musnah, dan hal ini menunggu penemuan kembali oleh beberapa korban yang selamat. Popper (1972) menyebut hal ini sebagaimana 'dunia ketiga' - pertama adalah kondisi mental saya dan keyakinan dan yang kedua menjadi realitas yang ada secara independen dari wilayah mental. Masalah dalam gagal untuk mengenali 'dunia ketiga' ini adalah bahwa, pertama, 'pengetahuan' datang untuk dihubungkan dengan keyakinan pribadi masing-masing individu dan, kedua, pembenaran klaim pengetahuan akan didasarkan dalam mata rantai wilayah-wilayah subjektif pikiran pada realitas objektif. Dan permasalahan tersebut tercermin pada pencarian Descartes untuk menemukan proposisi terbantahkan melalui proses keraguan metodologis yang tidak bisa diragukan.
“Tubuh Pengetahuan” ini merupakan berbagai teori, proposisi dan penjelasan yang telah terakumulasi dari hasil pencarian, kritik, argumen, dan argumen balasan. Hal ini telah teruji dan di kritik, dan merupakan yang bertahan dari kritik. Dengan demikian hanya beberapa “tubuh pengetahuan”, yang diperkuat dengan pemikiran yang baik, yang memenuhi ketentuan. Dan memang tingkat kepercayaannya tergantung pada keterbukaan untuk tantangan dan sanggahan publik. Oleh karena itu, setiap 'tubuh pengetahuan', meski dengan baik dikuatkan, hanya dapat bertahan relatif sementara; karena selalu terbuka untuk berubah lebih lanjut melalui kritik. Hubungan antara pengetahuan 'dan' kepastian 'rusak. Kekuatan keyakinan seseorang dan rasa kepastian terdapat pada jaminan pengetahuan. Memang, tidak terdapat dasar untuk kepastian; hal itu selalu dibayangkan bahwa apa yang percaya akan berubah menjadi salah dalam ketika bukti dari  pengalaman dan kritik lebih lanjut.
Hal ini menjadi tugas guru supaya pembelajar muda dapat mengungkapkan secara tubuh pengetahuan secara publik, dengan demikian dapat mengubah representasi subjektif tentang dunia. Dengan “pengungkapan” bentuk atau tubuh pengetahuan yang dimaksud tersebut adalah diperolehnya pemahaman mengenai gagasan-gagasan kunci atau konsep-konsep yang ada di dalamnya, mode-mode pengumpulan informasi sebagaimana yang mereka bangun, uji kebenaran dan validitas. Dan  Bruner (1960) berpendapat bahwa hal ini akan dapat di mulai dalam suatu cara yang terhormat secara intelektual pada suatu jaman.
Kegagalan untuk mengenali hal tersebut, adalah ketika seseorang berada dalam bahaya yang merongrong otoritas dan peran profesional guru. Guru dibayar bukan untuk memberikan pandangan pribadi dan kepastiannya. Otoritas guru terletak pada penguasaan atau pemahaman bentuk atau tubuh pengetahuan yang diacu demi meningkatkan dan membentuk penilaian terhadap pelajar. Matematikawan merasa percaya diri dalam mengajar karena memiliki bukti publik sebagai fakta bahwa dia telah menguasai elemen kunci dalam tubuh khas pengetahuan tersebut. Ini bukan permainan pribadi yang ia mainkan. Itulah sebabnya pengajaran pengembangan pribadi dan sosial sangat sulit dan tidak populer. Ketika tubuh pengetahuan telah disepakati secara publik, maka guru dapat menentukan untuk menambahkan bentuk penilaian pelajar. (Itu untuk alasan ini bahwa Stenhouse, dalam mengembangkan Proyek Kurikulum Humaniora, bersikeras menerapkan penggunaan strategi pengajaran tertentu untuk pengajaran dengan isu-isu kontroversial mengenai hidup praktis (lihat Stenhouse, 1975).
Pertanyaan untuk penelitian kependidikan kemudian muncul, apakah ada atau dapat menjadi suatu tubuh pengetahuan beserta dengan atribut aspek-aspek dari gagasan-gagasan dan konsep-konsepnya? Karena hal ini merupakan prinsip dan teori-teori umum, merupakan mode penyelidian yang sering dianggap aneh, sebagaimana tes telah disepakati kebenarannya, karena telah  berkembang dan bertahan melalui berbagai macam kritik, percobaan, pengujian, refleksi dan sebagainya. Kemudian seseorang mungkin akan memanfaatkan dengan penuh keyakinan sebagai pembuat kebijakan atau sebagai seorang profesional dalam membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan. Tubuh Pengetahuan mungkin akan turun level menjadi tingkat yang cukup rendah dan tidak terlalu teoritis. Hal-hal tersebut memuat generalisasi tentang beberapa hal seperti misalanya efektivitas suatu sekolah. Hal ini dapat dipinjam dari ilmu-ilmu sosial, untuk menjadi teoritis dalam bahasa dan cara untuk menjelaskan.
Satu kritik mengenai penelitian pendidikan kemudian muncul, yaitu terdapat hal yang  terlihat tidak menjadi seperti badan pengetahuan. Terdapat hal yang kemudian tidak menjadi program penelitian jangka panjang, di mana para peneliti baru, membangun pondasi dari penemuan-penemuan yang sudah tua. Yang sekarang membaca Bruner atau Peel? Seberapa jauh pengetahuan lama hadir turut membangun penelitian Piaget (seorang struktural fungsionalis Perancis dalam bidang psikologi) dan Kohlberg (Pengembang Konstruktivisionis yang terinspirasi oleh Jean Piaget, Red)? Apakah penelitian yang baik sudah diraih oleh Stenhouse? Rintisan riset dan pemikiran Stenhouse menghilang bersama kematiannya di usia muda -atau Akankah akan dilanjutkan oleh murid-muridnya setelah kematiannya? Oleh karena itu terdapat pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dipertanyakan tentang sifat pertimbangan profesional dan hubungan tersebut demi perkembangan pengetahuan melalui berbagai penelitian.
* * *
Pring telah menekakankan pada kunci dan konsep-konsep penting dalam berbagai pemahaman tentang riset. Khususnya dengan melansir pendapat seseorang yang telah memberikan beberapa konsep-konsep yang secara mendalam mempengaruhi praktek penelitian dan kepercayaan seseorang untuk memberikan kesimpulan-kesimpulan.
Di sisi lain, seseorang dapat mengatakan “dunia nyata” dapat diteliti, dengan keberadaannya secara independen terpisah dari kehendak peneliti, dan mengikuti prosedur yang layak (objektif), dan hal ini membuat pernyataan-pernyataan yang dapat di-verifikasi dengan demikan dapat ditampilkan menjadi sesuatu yang “benar”. Sementara kebenaran yang tergantung pada fakta-fakta dengan sedikit canggung dalam menentukan apa yang dapat dikatakan secara benar. Selanjutnya, akumulasi pernyataan yang benar mungkin memandu menuju sistem yang tersurat dan penjelasan (a body of knowledge) serta dalam sorotan kritik dan bukti-bukti lebih lanjut, akan terus berubah. Namun perubahan tersebut akan menjadi semacam proses pertumbuhan dan perkembangan, setiap tahap tidak berhasil menggabungkan tetapi juga mengembangkan menjadi lebih kompleks daripada sebelumnya.
Di sisi lain, hal ini tidak hanya dapat dibahas hanya salah satu ketika membahas realitas independen dari peneliti. 'Reality' merupakan konstruksi sosial, dan batas-batas antara tujuan dan subjektivitas menjadi kabur. Terdapat banyak realitas karena terdapat banyak konstruksi sosial, dan tentu saja peneliti menjadi bagian dari dunia yang akan diteliti, dan kebenaran bukan lagi hubungan antara pernyataan dan fakta-fakta dari sekitar pernyataan, melainkan hasil dari negosiasi dan kesepakatan pada ranah yang harus dianggap sebagai nyata.
Pring (2005: 82) ingin berpendapat bahwa hal tersebut di atas sebenarnya jauh lebih rumit. Hal initercermin dalam analisis konsep-konsep yang berbeda. Pembahasan mengenai konsep-konsep tersebut memang tidak akan berhenti di sini. Namun ada hal yang telah terpotong, yaitu, tempat dari common sense dalam evaluasi sebagaimana yang dikatakan penelitian. Kritik Pring terhadap Mr Blunkett, penelitian yang tidak mengukur sampai pada nalar, itu pasti akan ditolak. Namun siapa yang memiliki akal sehat dalam pikirannya? Sebuah pertimbangan ini akan membantu kita untuk lebih dekat dengan sifat penelitian pendidikan - yaitu, penelitian yang lebih masuk akal dari praktek pendidikan.

Referensi
Ayer, A. J. (1956) The Problem of Knowledge. London: Penguin.

Bruner, J. (1960) The Process of Education. Cambridge: Harvard Press.

Pring, Richard, (2005) Philosophy of Educational Research, Second Edition. London: Continuum

Popper, K. (1972) Objective Knowledge: an evolutionary approach. Oxford: Oxford University Press.

Scheffler, I. (1965) Conditions of Knowledge. Chicago: Scott. Foresman.

Stenhouse, L. (1975) An Introduction to Curriculum Research and Development.London: Heinemann

Woozley, A. D. (1949) Theory of Knowledge. London: Hutchinson.




Tidak ada komentar: