Sabtu, 14 Mei 2016

FILOSOFI PENELITIAN KEPENDIDIKAN (30): TRADISI ARITMETIKA POLITIS

       Pelabelan istilah dalam riset selalu terdapat bahaya- (Pring, 2005: 97) untuk menjadikan semua konsep tersebut lebih konkret (sebagaimana istilah para sosiolog). Namun bahaya menolak sumber dari positivisme, adalah bahwa seseorang mungkin sebenarnya menolak tradisi penelitian pendidikan yang pernah telah terbukti memang sangat bermanfaat. 'Aritmatika politik' dikaitkan dengan tradisi penelitian kuantitatif yang membutuhkan pengumpulan data lapangan, terutama dalam kaitannya dengan gender, etnis dan kelas sosial, dan bermaksud untuk  menemukan korelasi data tersebut dengan kinerja dan prestasi berikutnya. Asumsi (asumsi memang cukup eksplisit dalam beberapa kasus -. Lihat Heath, 2000, hal 314) adalah bahwa salah satu legitimasi yang dapat menunjukkan tentang hubungan kausal antara, katakanlah, kelas sosial dan prestasi akademik, mengingat kekuatan korelasi dalam tradition tersebut, tercermin dalam karya Floud et al. (1956), Halsey et al. (1980), dan Heath et al (1990), menyajikan data bagi mereka yang menentang seleksi penerimaan siswa di sekolah-sekolah tata bahasa (grammar schools) di Inggris. Hal ini menjadi klaim sebagai hal yang 'a-teoretis' dan deskriptif, karena membiarkan fakta berbicara dengan sendiri sendirinya.
Bahaya yang terdapat tradisi positivis tersebut mungkin dikacaukan oleh mereka yang mengasosiasikan positivisme 'obralan', dan mereka yang menolak pendekatan yang valid untuk penelitian pendidikan. Dan bahaya ini tercermin pada terjadinya penurunan jumlah peneliti dalam lembaga-lembaga kajian kependidikan yang terlatih dalam tradisi aritmatika politik. Singkatnya, terjadi kekurangan peneliti kuantitatif yang baik. Tentu saja, di satu sisi, ini bukan 'atheoretical'. Terdapat anggapan bahwa 'fakta berbicara sendiri', bahwa deskripsi, seperti pada kelas sosial, kemudian dapat dikaitkan dengan sekelompok orang yang diharapkan dapat berperilaku dengan cara yang khas dan dapat diprediksi. Kelas sosial itu sendiri menjadi elemen kausal dalam rantai penjelasan pencapaian manusia dan kinerja.
Pada seri artikel sebelumnya edisi 19- 27 (Konsep Kunci dan Penyelesain Konflik), Richard Pring berpendapat (terhadap mereka yang menolak dasar 'positivis' dalam penelitian pendidikan), bahwa masih perlu untuk mempertahankan mengenai gagasan 'fakta sosial' dan 'kausalitas' dalam melakukan penjelasan tentang manusia, serta secara fisik,  dann peristiwa. Ia juga berpendapat bahwa mungkin untuk melakukannya tanpa komitmen pada posisi sebagai determinis total atau penolakan cara khas dari personal dalam dunia dan pengalaman sosial yang ditafsirkan oleh masing-masing individu. Hal ini merupakan kegagalan untuk melihat ini yang menciptakan 'dualisme palsu' antara penelitian kuantitatif dan kualitatif (lihat Edisi 18).
Di sisi lain, terdapat (dan akan selalu ada) kesulitan-kesulitan melalui kesepakatan konsep-konsep ataupun kategori tersebut seperti 'kelas sosial' atau 'etnis minoritas'. Hal ini bukan klasifikasi yang 'menatap rupa'. Dalam konsep-konsep ini adalah cara melakukan klasifikasi yangmenjadi parasit pada konsep yang lebih luas, serta konsep pemahaman budaya masyarakat - di mana pemahaman tersebut akan bergeser sebagai basis ekonomi dari perubahan masyarakat dan pengujian kritis terhadap konsep kita, akan mengikis cara-cara memahami dunia sosial sebelumnya. Hal ini menciptakan permasalan dalam perbandingan longitudinal mengenai 'fakta sosial'.

REFERENSI:
Floud, J., Halsey, A. H. and Martin, F. M. (1956) Social Class and Educational Opportunity. London: Heinemann.
Foster, P. (1999) ' "Never mind the
Halsey, A. H. (1972) Education Priority, Vol. \. London: HMSO.
Halsey, A. H., Heath, A. F. and Ridge, J. M. (1980) Origins and Destinations: family, class and education in modern Britain. Oxford: Clarendon Press.
Heath, A. F. and Clifford, P. (1990) 'Class inequalities in the twentieth century7. Journal of the Royal Statistical Society, Series A, 153.
Heath, A. (2000) 'The Political Arithmetic Tradition in the Sociology of Education7. Oxford Review of Education, 26 (3 & 4).

Pring, Richard (2005) ‘Philosophy of Educational Research: Second Edition’, London: Continuum 

Tidak ada komentar: