Selasa, 29 Maret 2016

FILOSOFI RISET KEPENDIDIKAN (20): Konsep-Konsep Kunci dan Mengatasi Konflik dalam Penelitian Kependidikan

Realisme dan Objektivitas 
Realisme merupakan pandangan menenai adanya realitas (kenyataan) suatu dunia ketika secara independen ada pada peneliti dan hal yang akan ditemukan. Penelitian merupakan  suatu penemuan dari hal tersebut. Dan benar atau salahnya kesimpulan suatu realitas, tergantung pada kesesuaiannya dengan realitas. Hal ini akan nampak sebagai “common sense”. 
Namun, beberapa di antaranya  yang men-teori-kan riset akan menolak hal ini untuk menjadi kasus. Hal ini menjadi serangkaian oposisi dengan kesulitan-kesulitan tentang pemaknaan dan ranah dari “kebenaran”, serta mengenai teori yang tergantung pada pemahaman realitas, sebagaimana Cuba and Lincoln, menolak beberapa hal mengenai realitas. Realitas lebih dari sekedar “konstruksi secara sosial” dan terdapat banyak realitas atau “multi realitas” sebanyak konstruksi-konstruksi sosial yang mungkin dapat menjadi sekian sebanyak. Penelitian seringkali difokuskan pada persepsi orang-orang mengenai realitas, di mana seseorang memiliki banyak persepsi sebaik orang-orang lainnya. Kebenaran dan kesalahan mereka dapat atau tidak dapat terlihat melalui hal ini.
Jika kita membagi secara terpisah antara dunia fisik dan dunia sosial, maka anti-realisme akan selalu mendapatkan hal yang meyakinkan. Sosial, jika bukan secara fisik, dunia aa nampa sebagai “konstruksi yang terbentuk secara sosial”. Bahkan masing-masing pribadi dalam berhubungan dan bernegosiasi dengan  pribadi-pribadi lain, serta realitas sosial mereka di mana mereka saling berbagi dan hal tersebut akan menjadi pemikiran yang menciptakan realitas. Realitas merupakan suatu kreasi secara ini individu, sehingga tidak dapat berdiri sendiri karena persepsi mereka mengenai kenyataan akan selalu dinilai dan dievaluasi.
Hal ini menarik untuk dicatat bahwa di sisi lain  dari posisi ini  merupakan penolakan bagi beberapa realitas sosial –hal ini tidak terdapat eksistensi selain daripada hal yang kita tentukan untuk diciptakan. Oleh karena itu, Nyonya Thatcher akan menjadi benar dalam perkataannya bahwa tidak ada hal seperti masyarakat dan (sebagaimana dengan para politisi dan penasehat yang diikuti dan masih mengikuti kepemimpinannya). 
Permasalahan dengan posisi ini, bagaimanapun, ini merupakan kegagalan untuk memisahkan hal seperti sebagai berikut. Pertama, terdapat berbagai kekuatan dan struktur sosial yang biasanya tidak disadari dan kurang menunjukkan hubungan; Hal inilah yang dicari untuk ditemukan dan kemudian menyajikan pada pemahaman kesadaran kita, dengan demikian kita dapat melakukan sesuatu pada hal tersebut. Kedua, terdapat berbagai pemahaman sosial yang diwariskan pada kita, di mana kita sadar, untuk melihat dan menggambarkan dunia sosial kita saat in. Ketiga, terdapat proses yang terus berjalan melalui perubahan yang kadang kita alami, dalam memahami kepentingan kita sendiri atau sebagai bagian besar dalam perubahan kebudayaan secara lebih luas.
Kita ambil contoh, “realitas sosial” dari keluarga dan konsep-konsep mengenai saling keterkaitan antara, orang tua, menantu, paman, bibi, dan lain sebagainya. Hal ini dihubungkan sebagaimana dengan  berbagai konsep saling keterkaitan dengan konsep lainnya yang mengacu pada hak dan kewajiban (bahkan beberapa di antaranya diatur dalam hukum), kesetian dan perasaan. Pengertian-pengertian ini, dapat kita pahami melalui berbagai hal yang kita alami tanpa kita bentuk, walaupun keterlibatan konsep-konsep tersebut terlibat selama lebih dari ribuan tahun melalui interaksi sosial yang sangat rumit. Bahkan seorang tidak memiliki pilihan yang cukup untuk menciptakan cara lain untuk melahirkan dunia sosial, karena dunia yang didasari, dan terbentuk, oleh pemahaman diwariskan. Itu bukan berarti mengatakan bahwa pemahaman tersebut tidak berkembang. Cukup jelas yang terjadi - merupakan evolusi daripada penciptaan yang disengaja, meskipun dipercepat dengan keterlibatan tradisi kritis individu. Selain itu, tradisi kritis akan terdorong oleh penemuan di dalamnya, atau pemahaman baru bahwa realitas sosial yang telah diwariskan. Kemudian, salah satu contoh, perspektif feminist, dengan fakta yang jelas yang tertutup, menyatakan bahwa keluarga (atau seringkali) merupakan kekuatan sosial yang opresif. Pengakuan ini yang kemudian mengarah kepada rekonseptualisasi “keluarga”. Namun suatu rekonseptualisasi mengandung arti sebagai suatu realitas sosial yang  secara independen eksis dari pilihan dan hasrat kita, walaupun realitas didasari oleh pemahaman sosial yang mungkin saja justru sebaliknya. Bhaskar (1989, p. 4) dalam bukunya yang dinamainya dengan sangat menarik Reclaiming Reality, 'masyarakat dapat dilihat sebagai ensembel pada posisi praktis dan interelasi jaringan kerja, di mana tidak pernah diciptakan secara individu namun dapat terlihat dari aktivitas praktis mereka, dan melakukan di mana saja untuk menciptakan atau merubah. ’ Sebenarnya hal ini merupakan perubahan alami yang tepat, kadang ini merupakan keinginan untuk membatasi hal yang penting dalam pemahaman mengenai apa yang terjadi pada pendidikan dan bagaimana kita dapat melakukan konseptualisasi mengenai untuk kemudian disusun menjadi suatu riset. Terdapat tujuan sistematik sebagai mana pada artikel sebelumnya mengenai siapa yang mengelola sistem untuk memahami pendidikan dari sudut pandang bisnis dan manajerial. Dan untuk ketahannya seharusnya hal ini menjadi praktek sosial dalam pendidikan – nyata dan bebas dari kepentingan pengelolaan kelas- tidak akan dideskripsikan secara adil. Jika hanya sekedar gaya radikal dari penelitian kependidikan, yang lolos dari dari validitas rekan sejawat yang masing-masing secara sosial realitas terbentuk, akan memunculkan justifikasinya untuk menyiapkan menjadi manajer orwelian (deskripsi mengenai kondisi, situasi sosial, atau komunitas yang terbuka)  yang mencari untuk meruah pemahaman mengenai pendidikan sebagaimana yang mereka sukai atau mereka bayangkan.
Realisme, seharusnya tidak menjadi dirancu dengan “realisme naif” yang memiliki banyak kritik dalam pikiran. “Realisme Naif” suatu penampakan di mana hubungan satu lawan satu di antara diskripsi tentang realitas dan realitas itu sendiri- bahasa kita, sebagai cermin dari realitas.  Hal ini seolah-olah kita melihat kenyataan seperti itu tanpa perantara dengan bahasa, dan konsep-konsep yang telah diwariskan pada kita. Sebaliknya seharusnya kita mengakui bahwa, bagaimanapun budaya spesifik merupakan salah satu deskripsi mengenai realitas, seperti deskripsi dihadapkan pada  fakta-fakta realitas yang sangat jelas. Budaya yang berbeda mungkin menandai berbagai cara konseptualisasi kenyataan. Tetapi keberlangsungan perbedaan tersebut tergantung pada fitur dunia yang membuat hal tersebut memungkinkan. Pekerja baru adalah contoh yang jelas dari 'konstruksi sosial' realitas, dan banyak orang yang dipekerjakan untuk membangun realitas yang sesuai dengan tujuan dari para politisi. 'Penyakit', 'daftar tunggu', 'investasi dalam pelayanan kesehatan', 'perluasan penyediaan' yang terus 'direkonstruksi'. Tapi sering kali seorang realis keras kepala bertanya 'mana tempat tidur tambahan?' atau lebih menyoroti kasus bahwa seseorang telah benar-benar mati.
Realisme dalam pengertian ini memberikan dasar bagi seseorang memungkinkan untuk membedakan antara ranah objektif dan subjektif. 'objektif' memiliki berbagai makna yang saling berhubungan. Pertama, itu menandakan bahwa apa yang dikatakan selaras dengan dunia seperti itu sesungguhnya; Hal tersebut bukan produk dari hasrat “saya” (murni subjektif) atau harapan. Kedua, penelitian merupakan 'objektif' sehingga dibutuhkan langkah-langkah yang perlu dan tepat untuk mendapatkan bahwa ranah permasalahan objektif. Artinya, seseorang mengikuti prosedur secara tepat, yang mungkin akan sampai pada kesimpulan yang benar.
Pendekatan objektif tersebut tergantung pada sifat dari penelitian. Hal ini, misalnya, pemeriksaan bukti, pengujian kesimpulan seseorang terhadap pengalamannya, memastikan bahwa ranah ini koheren dan tidak saling bertentangan, melemahkan yang konkret. Untuk menjadi objektif tidak sama dengan menjadi benar.
Seseorang dapat mengambil semua langkah ketika dalam keadaan normal, ia akan mengarah pada jawaban yang benar walaupun masih terdapat kemungkinan salah. Dengan cara yang sama mungkin sampai pada kesimpulan yang benar sementara yang benar-benar subjektif. 'Objektivitas' mengacu pada cara proses seseorang, mengingat bahwa memungkinkan untuk memberikan penjelasan tentang keadaan obyektif permasalahan - yaitu, suatu keadaan yang benar-benar ada dan terjadi secara independen sebagaimana yang diinginkan.

Referensi:

Bhaskar, R. (1989) 
            Reclaiming Reality. London: Verso.

Pring, Richard. (2005)
             Philosophy of Educational Research, Second Edition. London: Continuum

Tidak ada komentar: