Jumat, 25 Maret 2016

FILOSOFI RISET KEPENDIDIKAN (19): Konsep-Konsep Kunci dan Mengatasi Konflik dalam Penelitian Kependidikan

            Posting- posting sebelumnya walau bahasa masih carut marut tentang dualitas palsu kualitatif dan kuantitatif, Ku beranikan untuk tetap melanjutkan menuangkan apa yang ada dalam pemikiran Richard Pring (2005) mengenai konsep-konsep kunci dalam rangka mendamaikan "dualitas palsu" dalam penelitian kependidikan. Karena rasanya tidak adil melemparkan permasalahan tanpa menceritakan upaya untuk mengatasinya.
Polarisasi antara dua paradigma, terutama pada tipe penulisan teoritis pada penelitian kependidikan,   mengakibatkan sedikit berhubungan pada kompleksitas praktek atau pelaksanaan penelitian. atau, memang cara berpikir tentang penelitian di tingkat kecerdasan “common sense”. Pring akan membahas pada bagian akhir mengenai yang dimaksud dengan kecerdasan 'common sense'. Ini adalah penangkal penting untuk berbagai kekonyolan  penulis penelitian pendidikan untuk kita ekspos. Namun  Pring ingin sekali menunjukkan bagaimana polarisasi antara dua paradigma ini menyebabkan kita melakukan intepretasi dengan sangat picik dan sempit, penuh kesalahan konsep-konsep dan ide-ide kunci dalam suatu penelitian.  – Hal ini seringkali bertentangan dengan apa yang akan kita asumsikan ketika kita mengikuti bagaimana kata-kata ini digunakan dalam praktek.
Karena pentingnya filosofi dan ilmu sosial untuk memperoleh pemahaman dari fenomena dan praktek sosial, penelitian kependidikan, penelitian kependidikan seringkali terjebak dalam kontroversi yang berdampak pada ranah dan validitas ilmu sosial. Kontroversi ini mencerminkan cara-cara yang fundamental dari konseptualisasi pemahaman kita terhadap dunia, khususnya demensi sosial dari manusia dan institusi. Konsep-konsep ataupun ide-ide ini menyediakan kerangka dasar demi suatu kejelasan. Oleh karena itu, kontroversi tersebut memecahbelah, dan salah satu bagian yang menang dalam penelitian pendidikan, mungkin menjadi terbaik jika dipahami melalui pemeriksaan konsep-konsep kunci. Dengan menyebut hal tersebut sebagai 'konsep kunci' merujuk pada pentingnya  komunikasi kita dengan orang lain dan dalam pemikiran kita tentang, dan susunan, pengalaman kita. Walaubagaimanapun pentingnya hal tersebut, penerapan yang tepat menjadi masalah dalam kontroversi, dan di mana salah satu posisi diri dalam kontroversi ini mempengaruhi pandangan seseorang tentang praktek dan validitas penelitian.
Berikut ini merupakan  konsep kunci dan konsep dasar yang perlu dipertimbangkan:
a)      'realitas' and 'objectivitas': kasus yang bebas dari pengaruh konstruksi ide peneliti baik secara personal atau sosial; dalam prosedur untuk memahami realitas.;
b)      'Eksplanasi kausal/causal explanation': Makna-makna untuk menyatakan bahwa seseorang dijelaskan dengan peristiwa atau fenomena dengan mengacu pada orang lain yang terlebih dahulu;
c)      'explanations of human behaviour': penjelasan bentuk non kausal yang membedakan pada perilaku manusia;
d)      'truth': Sesuatu yang dinyatakan ketika kita mengatakan sesuatu itu benar atau ketika kita menegaskan kebenaran atas kebenaran dari suatu penjelasan;
e)      'Fakta/ fact': Perhitungan yang dianggap sebagai fakta yang merupakan lawan dari fiksi atau konstruksi sosial, dan suatu ranah  dari perbedaan antara fakta dan nilai;
f)       'Teori/ theory': merupakan lawan katas dari akal sehat atau nalar, atau pemahaman praktis; validitas atau kebenaran dari penjelasan teoritis;
g)      'Pengetahuan/knowledge': Sesuatu yang membentuk pengetahuan (sebagai lawan hanya 'kepercayaan' atau 'opini'), perkembangan ilmu pengetahuan, dan ‘hubungan antara pengetahuan ',' kebenaran ',' kepastian 'dan' verifikasi '.


Tentu saja, Hal di atas merupakan pemisahan secara artifisial konsep-konsep kunci. Untuk membuat sesuatu menjadi masuk akal, seseorang  perlu acuan dari orang lain. 'Menjelaskan', adalah membuat referensi implisit untuk 'verifikasi' dan 'kondisi kebenaran'. Teori mengenai kebenaran memiliki implikasi untuk menerangkan maksud dari 'objektivitas' suatu pernyataan dan pertanyaan. Terdapat  'Logical Geography' di mana konsep-konsep yang berbeda memiliki tempat saling berhubungan dan memberikan kerangka yang sangat diperlukan kejelasan untuk penelitian. Dan itu adalah tujuan dari bab ini untuk memetakan interkoneksi tersebut.
"Logical Geography" di sini merupakan paradigma yang diadopsi dari konsep "regional complex" atau hubungan keterkaitan antar wilayah, atau sebagai model analogi filosofis untuk memetakan bidang-bidang dalam pikiran, posisi, fungsi, serta hubungan interaktif antar wilayah sebagai bagian dari bidang wilayah ontologis, dan epistimologis yang dipetakan. Mengapa demikian, mengapa tidak menggunakan model genealogis (silsilah historis)? ya, karena klaim silsilah historis akan memunculkan banyaknya  distorsi dan percabangan yang tidak perlu, sebagaimana sebelum-sebelumnya.

           Referensi: 
           Pring, Richard. (2005)
                    Philosophy of Educational Research, Second Edition. London: Continuum





Tidak ada komentar: