Kamis, 01 September 2016

Riset Kependidikan (2): Riset Pendidikan di Media Massa

Pembahasan-pembahasan mengenai penelitian kependidikan terus menerus muncul di media massa. Pendidikan, hampir dapat disamakan sebagaimana subjek-subjek lain untuk diperbincangkan seperti, politik, kuliner, ataupun seleksi tim sepakbola di Inggris, yang seringkali menjadi subjek yang diperbincangkan oleh orang-orang seolah-olah mereka adalah ahlinya (sejauh ini kita adalah orang-orang yang pernah bersekolah). Media masa akhir-akhir ini memilih hal-hal tersebut menjadi komuditi favorit untuk ditayangkan atau dipublikasikan seperti misalanya isu mengenai perbandingan luasan ukuran kelas dengan murid, pertanyaan-pertanyaan apakah guru dapat membuat variasi dan perbedaan dalam pengajaran yang selama ini menggunakan praktek-praktek pelatihan yang masih tradisional, di mana hal-hal tersebut selalu menyudutkan guru-guru, apalagi ketika terdapat fenomena permasalahan berkenaan dengan setiap penyakit sosial, hingga masalah penganglain sebagainya. Perdebatan "kambuhan" lainnya adalah perdebatan tentang pengaruh genetika secara relatif terhadap lingkungan, atau faktor 'natural/alam versus pengasuhan/pendidikan' sebagaimana pers lebih memilih untuk menampilkannya sebagai alternatif. Sebuah isu panas yang lebih aktual adalah perempuan cenderung lebih berprestasi dibandingkan anak laki-laki, dalam headline liputan koran-koran terkenal di awal tahun 1998 dan kondisi semacam ini juga telah terulang secara teratur. (Salah satu keajaiban apakah sorotan media akan sebesar itu, jika anak perempuan hasil belajarnya mengalami  kemerosotan  jauh di bawah anak laki-laki '.)
Kemudian Menteri Pendidikan pada Januari 1998, mendesak supaya murid laki-laki harus didorong untuk membaca selama satu jam sehari, dan bahkan anak laki-laki harus duduk di sebelah murid perempuan satu kelas.

Sebagaimana dapat diduga, muncuk desakan menteri tersebut yang mengundang kegelian publik dan ketika hasil penelitian menjadi berita utama. Pelajaran musik, misalnya, dikatakan, pada tahun 1998, menjadi 'kunci untuk memori yang lebih baik'. Kesimpulan ini didasarkan pada eksperimen 'terkontrol' yang dilakukan di Hong Kong dengan melibatkan tiga puluh siswa perempuan yang telah menerima pelajaran musik dan tiga puluh lain yang tidak. Penelitian ini pertama kali dipublikasikan di Nature, dan hal tersebut  menarik minat surat kabar untuk meliputnya; mungkin karena melibatkan eksperimen terkontrol, maka dianggap memiliki kualitas status  tinggi, atau 'ilmiah'. Demikian pula, hasil pengamatan bahwa 'otak wanita menyusut selama kehamilan' yang didasarkan pada 'bukti ilmiah baru' yang diterbitkan dalam New Scientist pada tahun 1997.

Sebuah program penelitian sistematis akhirnya harus dilakukan secara mendalam tentang pemilihan media publikasi saat ini, perlu penyaringan dan penggambaran yang jelas pada penelitian pendidikan sehingga akan membuat sebuah proyek yang ideal. Kecurigaan Wellington bahwa bias media massa pada penelitian pendidikan dipandang sebagai 'ilmiah', obyektif dan bebas nilai, hal ini berkebalikan dengan  penelitian yang bersifat kualitatif dan karena itu dianggap sarat penilaian dan subjektif.

Beberapa penelitian yang telah diliputan media massa dari aspek-aspek tertentu dari pendidikan: misalnya Pettigrew dan Maclure (1997), yang mendapatkan hibah penelitian sekolah sekolah saat itu; Baker (1994), pada cakupan surat kabar Persatuan Guru; dan Warburton dan Saunders (1996), gambar koran guru di tahun 1970-an. Namun, tidak pernah dan tidak ada pemeriksaan sistematis yang dilakukan penyaringan berita  dalam penyampaian penelitian pendidikan itu sendiri - sebuah 'kesenjangan' yang perlu diisi.

Kita kembali ke kritik terbaru mengenai penelitian pendidikan, di media massa dan lainnya pada artikel-artikel berikutnya.

Referensi:

Referensi:
Baker, M. (1994), ‘Media coverage of education’. British Journal of Educational Studies, 42(3), 286–97.

Pettigrew, M. and MacLure, M. (1997), ‘The press, public knowledge and the grant maintained schools policy’. British Journal of Educational Studies, 45(4), 392–405.

Warburton, T. and Saunders, M. (1996), ‘Representing teachers’ professional culture through cartoons’. British Journal of Educational Studies, 43(3), 307–25.

Wellington, J. 2006. Educational Research: Contemporay Issues and Practical Approach. London: Continuum

Tidak ada komentar: